Jumat, 01 Februari 2013

BAB VI



BAB VI
PROYEKSI

6.1.   Proyeksi
          Dengan menggunakan proyeksi in struktur bidang dan struktur garis akan kelihatan lebih jelas kedudukannya. Dalam hal ini struktur tersebut akan digambarkan pada permukaan bola bagian bawah. Yang dimaksud proyeksi stereografis adalah kenampakan gambaran dari dua dimensi atau proyeksi dari permukaan bola struktur tersebut. Untuk melakukan analisis dan pemecahan masalah geologi struktur, dengan metode ini akan digunakan stereo net (jarring stereo) yang terdiri dari :
Ø Wulfnet (jaring sama sudut atau equiangular net)
Ø Schimidt net (jaring sama luas atau equal area net)
Ø Polar equal area net
Ø Kalsbeek counting net (jaring penghitung kalsbeek)
            Proyeksi stereografis merupakan proyeksi yang didasarkan pada perpotongan suatu bidang garis dengan arah bidang proyeksi yang merupakan bidang permukaan (horizontal) yang melalui pusat sebuah bola.








Description: http://3.bp.blogspot.com/_uCcU6E0Zazc/TNKQvNJKyBI/AAAAAAAAAD0/q2FoD2_AnBg/s320/17.JPG
 







Gambar 6.1. proyeksi peta
            Prinsip pengerjaan proyeksi kutub sama dengan prinsip kerja proyeksi stereografis yaitu unsur struktur dipermukaan bumi digambarkan pada permukaan bola bagian bawah. Hasil proyeksi dari struktur bidang atau struktur garis akan berupa titik (pole).
Ø Untuk pegeplotan dip suatu struktur bidang 0° dimulai dari pusat lingkaran dan 90° pada lingkaran primitif.
Ø Untuk pengeplotan plunge suatu garis 0° dimulai dari lingkaran primitif dan 90° pada pusat lingkaran.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguGABDbMth7jc-liHcUDGJwcTV1ecmhxne3gLxy2OSjN8X4ZUWY6966_ipc_MXqucdex0NOKaKjbVgtrF3zt63ASzY9m683zaC96W94b5CDWO_osE1bP7zNBAVwzD0ZfRo6yStxn_3x24/s1600/proyeksi.jpeg
 









Gambar 6.2. prinsip proyeksi

6.2.    Penggambaran Unsur Struktur
          Adapun penggambaran unsur struktur dalam proyeksi adalah sebagai berikut:
a.    Prosedur penggambaran struktur bidang :
·      Perpotongan antara lingkaran kecil dengan lingkaran primitive pada kalkir
·      Gambarkan besaran jurus pada melalui pusat lingkaran
·      Putar kalkir berlawanan dengan arah jarum jam sampai jurus berhimpit dengan N-stereonet.
·      Gambarkan busur lingkaran sesuai dengan besarnya dip
·      Putar kalkir keposisi semula
Setelah itu lakukan proses ini :
Ø Perpotongan antara lingkaran kecil dengan lingkaran primitif untuk pengukuran jurus/strike
Ø Pembacaan dip dimulai dari 0 pada lingkaran primitif dan 90 pada pusat lingkaran.
b.    Prosedur penggambaran struktur garis.
Ø Gambarkan besaran bearing mulai dari pusat lingkaran.
Ø Putar kalkir hingga bearing berhimpit dengan arah E – W stereonet.
Ø Beri tanda panah pada besaran bearing pada tepi batas besarnya harga plunge.
   Setelah itu lakukan proses seperti ini :
v Hasil penggambaranakan berupa gris lurus dari pusat lingkaran primitif.
v Penggambaran plunge dimulai dari lingkaran primitf (0°) dan 90° terletak dipusat lingkaran.
v Penggambaran bearing prinsipnya sama dengan penggambaran pada struktur bidang.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPENZ5hqUTgzodKwO70aNlPAOHx4dogC1VQE3z8T2FqvltrJUugZAPXGMS9T-RpdBkm8DKEYN7822BsxTLxIOsYzFjXMEap8Sla0UQkaNo2j7vHMugFAVe-ozTrhXpN4gmD4IWMmqXtJs/s1600/b1.jpg 












Gambar 6.3. penggambaran proyeksi


6.3.     Analisa Kekar dan Sesar
           Berdasarkan definisi dari struktur geologi kekar, sesar, dan lipatan telah menunjukkan bahwa adanya keterkaitan satu dengan yang lain. Misalnya sesar, sesar ialah kekar yang mengalami pergeseran pada bidangnya, dan biasanya sesar terbentuk pada daerah lipatan (sinklin maupun antiklin).
           Hubungan dari ketiga struktur geologi ini dapat dijelaskan melalui three stages of deformation yang merupakan sifat deformasi suatu benda terhadap gaya berdasarkan tingkat elastisitas benda tersebut. Ketiga tingkatan tersebut adalah :
1. Elastic
           Benda dikatakan elastic jika suatu benda dikenai gaya, maka akan mengalami deformasi, tetapi jika gaya dilepas (hilang), maka benda tersebut akan kembali lagi pada bentuk dan ukuran semula. batas dimana suatu benda masih dapat kembali seperti semula jika gaya dilepas, disebut elastic limit. Maka jika besar gaya yang bekerja melebihi elastic limit, benda tersebut tidak akan kembali pada bentuk semula, jika gaya hilang.
2. Plastic
Benda dikatakan plastic jika gaya yang bekerja mencapai elastic limit. Benda yang terkena gaya hanya sebagian yang dapat kembali pada bentuk semula, jika gaya dihilangkan.
3. Brittle and Ductile
Benda dikatakan brittle, jika benda sudah pecah sebelum gaya yang bekerja mencapai titik plastis. Benda dikatakan ductile, jika benda pecah/hancur setelah gaya melewati titik elastic.
Berdasarkan penjelasan mengenai tingkat deformasi tersebut dapat diketahui bahwa kekar merupakan awal atau pemicu adanya sesar dan lipatan. Hal ini dikarenakan kekar menjadi zona lemah suatu batuan yang apabila mendapat gaya yang lebih besar akan memicu terjadinya struktur geologi sesar dan lipatan. Sedangkan sesar naik umumnya terbentuk pada daerah lipatan berupa sinklin dan sesar turun terbentuk pada daerah lipatan yang berupa antiklin. Hal ini dikarenakan ketika gaya tekan pada daerah lipatan hilang, maka batuan yang terlipat akan kembali berusaha kebentuk semula, tetapi karena adanya kekar maka terbentuklah sesar karena pergerakan yang terjadi pada bidang kekar.
Dari penjelasan barusan, dapat disimpulkan bahwa analisis terhadap kekar pada suatu tubuh batuan, selain bertujuan untuk menentukan arah gaya yang mempengaruhinya, juga untuk mengetahui ada tidaknya kekar dan lipatan, bahkan dari analisis kekar kita dapat mengetahui apakah suatu lipatan itu berupa sinklin atau antiklin. Selain itu kita juga dapat mengetahui suatu sesar merupakan sesar naik, turun atau geser dari hasil analisi kekar.
Untuk menentukan suatu sesar, kita dapat melakukannya dengan analisis kekar untuk mendapatkan nilai Ө1, Ө2, Ө3. Jika kedudukan Ө1, Ө2 relatif horizontal, sedangkan Ө3 relatif vertikal sehingga menghasilkan hanging wall bergerak naik terhadap foot wall maka sesar tersebut merupakan sesar naik. Jika kedudukan Ө2, Ө3 relatif horisontal, sedangkan Ө1 vertikal sehingga menyebabkan hanging wall bergerak turun terhadap foot wall maka sesar tersebut merupakan sesar turun. Jika kedudukan Ө1, Ө3 relatif horisontal, sedangkan Ө2 vertikal, sehingga menyebabkan blok bergeser ke kanan atau kiri maka sesar tersebut merupakan sesar geser.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpFDENGt_p02oKhLa1RmtzeFoh1LdCwNWfpxz_xIWyd9t9iM3-uVnroU0C0QwKjr_z9XYOrRtdoizIhb47XWvoMW3Z-9m0q54psG4tJAeG23lYnWTF0QRvuLsJq9esDARZcQSI0cdsuJY/s320/sesar+vs+kekar.jpg
 











Gambar 6.4. Hubungan Kekar dan Sesar
                            

6.4.     Alat dan Bahan
           Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam praktik ini adalah :
6.4.1.   Alat
                 Alat-alat yang di gunakan adalah :
   -Pensil.
   -Penghapus.
   -Penggaris.
   -Pensil Warna.
   -Busur.
 6.4.2. Bahan
                Bahan-bahan yang di gunakan adalah :
  -Kertas form yang telah ditentukan dan berukuran A4.

6.5.     Prosedur Kerja
       Prosedur kerja yang di lakukan dalam menggambar proyeksi adalah sebagai berikut :
a.       Menentukan kemiringan semu (apparent dip) dari suatu bidang.
v  Gambarkan kedudukan jurus dan dip yang telah diketahui.
v  Gambarkan kedudukan jurus yang akan dicari kemiringan semunya.
v  Putar kalkir searah jarum jam sampai kedudukan jurus yang akan dicari kemiringan semunya berhimpit dengan arah E – W stereonet.
v  Baca besaran apparent dipnya sampai busur lingkaran yang menunjukan kemiringan yang sebenarnya dari jurus dan dip yangtelah diketahui tadi.
b.      Menentukan kedudukan sebenarnya dari dua kedudukan semu.
·         Gambarkan kedudukan semu yang diketahui beserta kemiringan semunya.
·         Putar-putar kalkir sehingga kedua titik dari besarnya harga dua kemiringan semu tersebut berada pada satu busur lingkaran besar.
·         Gambarkan busur lingkaran tersebut dan langsung baca dipnya.
·         Putar-putar kembali kalkir hingga N kalkir berhimpit dengan N stereonet.
·         Baca besar arah jurusnya.
c.       Menentukan Plunge dan Rake.
v  Gambarkan kedudukan struktur bidang yang telah diketahui.
v  Gambarkan keadaan struktur garis yang telah diketahui.
v  Putar kalkir sampai kedudukan struktur garis berhimpit pada E – W stereonet.
v  Hitung pembagian sudutnya mulai dari lingkaran primitif (E) sampai lebih perpotongan dengan stereogram bidangnya.
v  Baca besar plungenya.
v  Putar kalkir kembali hingga jurus berhimpit pada arah N – S.
v  Hitung besarnya pitch/rake dihitung dari busur lingkaran pilih yang lebih kecil dari 90°.
d.      Menentukan perpotongan dua bidang.
*      Gambarkan semua kedudukan bidang yang diketahui.
*      Baca besaran yang didapat dari perpotongan kedudukan bidang yang diketahui.
*      Baca besaran bearing yang didapat dari perpotongan kedudukan bidang yang berpotongan pada saat N kalkir berhimpit denngan N stereonet.
*      Bacalah besaran plungenya.
*      Baca pitch/rake untuk masing-masing bidang.

6.7.     Kesimpulan
           Setelah melaksanakan praktik ini Adapun yang dapat di tarik kesimpulan adalah :
ü Praktikan dapat menggambarkan kekar dan sesar.
ü Mengetahui perbedaan kekar dan sesar.
ü Mengetahui cara mengukur kekar dan sesar.
ü Mengaplikasikannya di lapangan.